Sunday, April 29, 2018

MATERI SKI KELAS 6 MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH

MATERI SKI KELAS 6 MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH
BAB I
MENGENAL JAZIRAH ARAB
A.     Letak Jazirah Arab
Arab artinya sahara, dikatakan Jazirah Arab karena Arab merupakan semenanjung yang terdiri dari gurun sahara sangat luas. Jazirah Arab terletak di bagian barat Benua Asia, yang sekarang terkenal dengan sebutan negara Saudi Arabia, dengan ibukotanya Riyadh.
Di Jazirah Arab terdapat dua kota terkenal yaitu Makkah dan Madinah, yang merupakan kota pertama tumbuh dan perkembangannya agama Islam di dunia dan termasuk di Indonesia.
Daerah Jazirah Arab merupakan semenanjung yang mempunyai luas kurang lebih 1.544.000 km2. Jazirah Arab bagian utara dibatasi oleh negara Palestina, Syam dan Irak, sedangkan timur dengan laut Teluk Arab/ Persi, sebelah selatan dengan laut Hindia dan sebelah barat dengan laut Merah.

Jazirah Arab terdiri dari bagian tengah dan tepi bagian tengah terdiri dari tanah pengunungan yang jarang terkena hujan. Penduduknya sedikit dan sebagian besar pengembara yang selalu berpindah-pindah. Mereka mencari padang-padang rumput untuk pengembalaan ternak-ternaknya. Bagian tengah ini terdiri dari dua bagian. Bagian utara disebut Najeb dan bagian selatan disebut Al-Ahqaf.
Bagian Arab terdiri dari bagian yang datar dan terdapat banyak hujan. Penduduknya mendirikan kota-kota dan kerajaan serta mempunyai bermacam-macam kebudayaan.

B.     Batas-Batas Jazirah Arab
Daerah Arab merupakan daerah semenanjung mempunyai luas daearah kurang lebih 1.544.000 km2. Batas-batasnya: 
a.       Sebelah Utara dengan Palestina, Syam dan Republik Irak,  
b.      Sebelah Barat dengan Laut Merah,  
c.       Sebelah Timur dengan Teluk Arab/ Persi,  
d.      Sebelah Selatan dengan Laut Hindia.

C.      Kota Besar Di Arab Saudi yang ada kaitannya dengan Sejarah Rasulullah
Di Arab Saudi terdapat kota-kota besar dan tempat-tempat bersejarah yang erat hubungannya dengan sejarah Rasulullah dan sejarah perkembangan agama Islam.
1.     Kota Makkah
Makkah termasuk kota suci bagi umat Islam, tempat melaksanakan ibadah Haji, termasuk kota tertua di Jazirah Arab. Orang yang pertama kali mendiami adalah Nabi Ibrahim, Siti Hajar namanya dan putranya Nabi Ismail, lalu datang suku Arab lainnya yang datang dari Yaman. Di tempat kota Makkah itu terdapat tempat bersejarah dan tempat melaksanakan ibadah Haji, antara lain:
a.      Ka’bah
Ka'bah berada di dalam Masjidil Haram, sebagai arah kiblat bagi umat manusia dalam melaksanakan shalat, dan tempat melaksanakan thawaf. Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail atas perintah Allah lalu Nabi Ibrahim menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah Haji.  
Pada sisi kanan Ka'bah terdapat Hajar Aswad (batu hitam), harum baunya dan sunah hukumnya apabila mencium setelah melaksanakan Thawaf.

b.     Sumur Zamzam
Sumur Zamzam, terletak berdekatan dengan Ka'bah airnya tidak kering dan mempunyai rasa tersendiri. Sumur itu tatkala Nabi Ismail dalam kehausan, sedang ibunya mencari air dengan berlari antara Shafa dan Marwah, akhirnya muncullah air pada bekas kaki Nabi Ismail.  Sumber inilah yang sekarang disebut sumur Zamzam.

c.      Shafa dan Marwah
Shafa dan Marwah, adalah dua bukit yang rendah, tempat Siti Hajar ibu Nabi Ismail berlari mencari, tatkala anaknya kehausan. Bila jama'ah haji melaksanakan Sa'i, mereka harus berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah.

d.     Gua Hira
Gua Hira terletak di pegunungan Nur (Jabal Nur), di luar Kota Makkah sebelah utara, jarak kurang dari 6 km dari kota Makkah. Di tempat ini Rasulullah Saw mendapat wahyu yang pertama dari Allah dan berjumpa dengan Malaikat Jibril.

2.     Kota Madinah
Kota Madinah Dahulu bernama Yasrib, tempat kelahiran ibunya Nabi Muhammad yang bernama Aminah. Sewaktu Rasulullah berhijrah ke tempat tersebut, maka dinamakan Al-Madinah Al-Munawarah dan menjadi kota suci kedua setelah kota Makkah. Di kota ini terdapat Masjid Nabawi, di dalamnya terdapat kuburan Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar Siddik, dan Umar bin Khattab, sedangkan makam lainnya terdapat di Baqi berdekatan dengan Masjid Nabawi.

3.     Kota Jeddah
Kota Jeddah Terletak di tepi laut Merah, terdapat pelabuhan laut dan pelabuhan udara terbesar di Jazirah Arab. Di tempat ini terdapat kuburan Siti Hawa isteri Nabi Adam.

4.     Padang Arafah
Padang Arafah merupakan Padang pasir yang luas, di tempat ini merupakan tempat pertemuan pertama antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah dikeluarkan dari surga. Peristiwa ini dijadikan rukun Haji yaitu Wukuf di Arafah pada setiap tanggal 9 Dzulhijjah.

5.     Muna (Mina)
Mina terletak 2 kilo meter (2 km) dari kota Makkah, diapit oleh dua bukit batuan ditempat inilah Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail beliau digoda oleh iblis, tetapi Nabi Ibrahim tidak tergoda, maka Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba yang bagus. Peristiwa ini dijadikan peristiwa Haji, yaitu melontar tiga jumrah. Aqabah, Wustha, dan Sughra, pada tiap tanggal 10 sampai tanggal 15 bulan Dzulhijjah, dan disunnahkan untuk memotong hewan qurban bagi jema'ah haji dan umat Islam pada tanggal tersebut.


BAB II
KEPERCAYAAN BANGSA ARAB

A.     RAGAM KEPERCAYAAN BANGSA ARAB
Pada mulanya bangsa Arab mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pergaulan mereka dengan bangsa lain mempengaruhi kepercayaan mereka, sehingga mereka menyembah berhala yang dibawa oleh Amr bin Luay Al Khuzai. Di antara berhala yang besar adalah Lata yang terdapat di kota Thaif, berhala Hijah dan berhala Manah terdapat di kota Yasrib (Madinah) serta terdapat juga berhala-berhala besar di sekeliling Ka'bah.
Selain menyembah berhala, ada juga yang menyembah Malaikat, Jin, Bintang, Matahari dan lain sebagainya di antara bangsa Arab ada juga yang menganut agama Nasrani, dan yahudi dan masih ada yang menganut Agama Nabi Ibrahim.
Sebelum membaca artikel-artikel dalam kategori “Sirah Nabawi” yang membahas sejarah Rasulullah SAW, ada baiknya jika kita melihat juga sejarah agama agama bangsa Arab sebelum kerasulan beliau yang kita tahu merupakan rahmat bagi seluruh alam.
Allah menghendaki bahwa beliaulah yang membawa syariat-Nya yang dengannya, wajah dunia pada saat itu berubah menjadi jauh lebih terang, beradab dan lingkungan hidup yang jauh lebih baik. Untuk menggambarkan hal tersebut, maka hal yang perlu digambarkan secara ringkas pertama kali adalah keadaan dunia, khususnya bangsa Arab sebelum munculnya Islam.
Sebelum kedatangan Islam sebagai rahmat Allah untuk alam semesta ini, Jazirah Arab telah dihuni oleh beberapa ideologi keyakinan dan keagamaan. Agama-agama yang sudah ada pada saat itu adalah:
1.      Yahudi
Agama ini dianut orang-orang Yahudi yang berimigrasi ke Jazirah Arab daerah Madinah, Khaibar, Fadk, Wadi Al Qura dan Taima’ menjadi pusat penyebaran pemeluknya. Yaman juga dimasuki ajaran ini bahkan Raja Dzu Nuwas Al Himyari juga memeluknya. Bani kinanah, Bani Al Harits Bin ka'ab dan Kindah juga menjadi wilayah berkembangnya agama Yahudi ini.
2.      Nashara
Agama ini masuk ke kabilah-kabilah Ghasasinah dan Al Munadzirah. Ada beberapa gereja besar yang terkenal. misalnya, gereja Hindun Al Aqdam, Al Laj dan Haaroh Maryam. Demikian juga masuk di selatan Jazirah Arab dan berdiri gereja di Dzufaar. Lainnya ada yang di ‘Adn dan Najran. Adapun di kalangan suku Quraisy yang menganut agama Nasrani adalah Bani Asad bin Abdil uzaa, Bani Imriil Qais dari Tamim, Bani Taghlib dari kabilah Rabi’ah dan sebagian kabilah Qudha’ah.
3.      Majusiyah
Sebagian sekte majusi masuk ke Jazirah Arab di Bani Tamim. Diantaranya, Zararah dan Haajib bin Zararah. Demikian juga Al Aqra’ haabis dan Abu Sud (kakek Waki’ bin Hisan) termasuk yang menganut ajaran majusi ini. Majusiyah juga masuk ke daerah Hajar di Bahrain.
4.      Syirik (paganisme)
Kebanyakan bangsa Arab menyembah patung berhala binatang-binatang dan matahari yang oleh mereka di jadikan sebagai sesembahan selain Allah. Penyembahan binatang-binatang juga muncul di Jazirah Arab khususnya di Haraan, Bahrain dan di Makkah, mayoritas Bani Lahm, Khuza'ah dan Quraisy. Sedangkan penyembahan matahari ada di negeri Yaman.
Dahulu kebanyakan bangsa Arab mengikuti agama Nabi Ibrahim dan dakwah Nabi Ismail mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dalam seluruh peribadatan. Setelah melewati beberapa masalah aqidah tauhid luntur. Meski demikian mereka masih memiliki tauhid dan sebagian besar agama Nabi Ibrahim sampai kota Makkah dikuasai Bani Khuza'ah. Bani Khuza'ah menguasai Ka'bah selama kurang lebih 300 tahun atau 500 tahun mulai terjadinya penyembahan terhadap berhala (paganisme) di kalangan bangsa Arab, saat Bani Khuza'ah dipimpin Amru bin Luhai Al Khuza'i.
Kisahnya sebagaimana disampaikan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab An Najdi, sebagai berikut:
“Adapun kisah Amru Bin Luhai dan perubahan agama Nabi Ibrahim, bahwa ia seorang yang berkembang dalam sifat baik dan Dermawan, serta memiliki semangat agama yang tinggi sehingga orang-orang sangat mencintai dan mengikutinya. Karena sifat yang baik inilah mereka mengangkatnya sebagai pemimpin. Dia pun menjadi penguasa Mekah dan Ka'bah. Bangsa Arab menganggapnya sebagai ulama besar dan wali”.
“Pada suatu waktu, kepergian ke negeri Syam. Di sana, ia melihat mereka (Ahli Islam) menyembah patung berhala. Kemudian ia menganggap hal itu baik dan menyangkanya sebagai suatu kebenaran, karena Syam adalah tempat para rasul dan turunnya kitab suci, sehingga mereka memiliki keutamaan dalam hal itu daripada ahli Hijaz dan yang lainnya.
“Dia pun kembali ke Mekah, sambil membawa patung Hubal dan menempatkannya di dalam Ka'bah, serta mengajak ahli Makkah untuk berbuat Syirik. Ajakan itu mereka terima. Sedangkan Ahli Hijaz mengikuti ahli Makkah dalam agama, karena ahli Makkah adalah pemilik Ka’bah dan penduduk tanah suci”.
Kemudian Amru bin Luhai mendapatkan patung-patung kaum Nabi Nuh yang telah terpendam akibat banjir Taufan dan membagi-bagikan patung tersebut kepada kabilah kabilah Arab. Hal ini diceritakan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab: “Amru bin Luhai adalah seorang dukun yang memiliki Jin, berkatalah Jin tersebut kepadanya:
“Percepat perjalanan dan kepergianmu dari Tuhamah dengan kebahagiaan dan keselamatan. Datangilah Jedah, nanti kamu akan menemukan patung-patung yang telah jadi. Bawalah ke Tuhamah dan jangan hadiahkan. Serulah bangsa Arab untuk menyembahnya, nanti mereka akan menerimanya.
Lalu ia mendatangi Jeddah dan mencari patung patung tersebut dan membawanya ke Tuhamah. Ketika datang musim Haji, maka ia mengajak bangsa Arab untuk menyembahnya”.
Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Aku melihat Amru bin A’mir bin Luhai menyeret ususnya di neraka, dan ia adalah orang pertama yang mencetuskan ajaran As-Sayaib.” Patug-patung tersebut adalah Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Allah menyebutkan dalam Firman-Nya Qs. Nuh :23
Artinya: “Dan mereka berkata janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan  jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.
Kemudian paganisme merambah ke seluruh bangsa Arab hingga akhirnya, setiap rumah memiliki berhala sendiri-sendiri dari berbagai macam benda yang mereka ciptakan sendiri-sendiri. Abu Ar-Raja’ Al-‘Atharisi menceritakan: “Kami menyembah sebuah batu. jika kami dapati batu lain yang lebih bagus, maka kami buang yang pertama dan kami ambil yang kedua. jika kami tidak mendapati batu, maka kami kumpulkan tanah dan kami bershadaqah dengan susu, dan kami thawafi (kumpulan tanah tersebut).
Diantara mereka ada yang menyembah pohon atau malaikat dan menyatakan malaikat adalah anak perempuan Allah sebagaimana dikisahkan Al Quran surat An-Najm: 21
Artinya: “Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?
Ada juga yang menyembah Jin, lalu Jinnya masuk Islam dan penyembahnya masih menyembahnya. Ibnu Mas’ud menyatakan:
Dulu Ada sejumlah orang yang menyembah sejumlah Jin, lalu Jin tersebut masuk Islam dan mereka (para penyembahnya) tetap berada pada agama mereka. Lalu turunlah firman Allah QS. Al-Isra: 57
Artinya: “Orang-orang yang mereka suruh itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka Siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.
Tentang penyembahan mereka kepada malaikat dan jin, telah Allah kisahkan dalam Firman-Nya dalam QS. Saba’ 40 - 41
Artinya: “Dan (Ingatlah) hari (yang pada waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami. bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah Jin kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.
Bangsa Arab memiliki thaghut-thaghut, berupa rumah keramat menyamai Ka'bah. Di antaranya Al Laata dan Uzza. Mereka memperlakukannya sebagaimana memperlakukan Ka'bah.
5.      Al Hunafa’
Meskipun pada waktu hegemoni paganisme di masyarakat Arab sedemikian kuat, tetapi masih ada beberapa orang yang dikenal sebagai Al Hanafiyun atau Al Hunafa’. Mereka tetap berada dalam agama yang Hanif, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya serta menunggu datangnya kenabian. Diantara mereka adalah Qiss bin Sa’idah Al Iyaadi, Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Waraqah bin Naufal, Umayyah bin Abi Shalt, Abu Qais bin Abi Anas, Khalid bin Sinan. An Nabighah Adz Dzubyani, Zuhair bin Abi Salma, Ka’ab bin Luai bin Ghalib, Umair bin Haidab Al Juhani, ‘Adi bin Zaid Al ‘Ibadi, penyair Zuhair bin Abi Salma, Abdullah al Qudhaa’i, Ubaid bin Al Abrash Al Asadi, Utsman bin Al Huwairits, Amru bin Abasah Al Sulami, Aktsam bin Shaifi bin Ravaah dan Abdu Muthalib kakek Rasulullah SAW.

B.     JENIS-JENIS PEMUJAAN BANGSA ARAB
Beberapa bentuk pemujaan yang dianut oleh bangsa Arab sebelum datang Islam antara lain:
1.     Menyembah Malaikat.
Di antara bangsa Arab ada yang menyembah dan menuhankan Malaikat. Ada sebagian bangsa Arab yang menganggap Malaikat adalah putri-putri Tuhan.
2.     Menyembah Jin,
Menyembah Jin, ruh dan hantu. Sebagian bangsa Arab yang menyembah jin dan ruh-ruh leluhur mereka atau menganggap hantu-hantu sebagai makhluk yang terhormat. Bahkan ada suatu tempat jin yang terkenal dengan nama "Darahim". Mereka selalu mengorbankan binatang-binatang di tempat itu agar selamat dari berbagai bencana.
3.     Menyembah bintang-bintang.
Yang dimaksud dengan bintang-bintang adalah matahari, bulan dan bintang-bintang karena menganggap bintang-bintang tersebut diberikan kekuasaan penuh oleh Tuhan untuk mengatur alam ini.
4.     Menyembah berhala.
Sebagian bangsa Arab menyembah berhala-berhala, atau arca-arca yang terbuat dari batu-batu dan logam. Menurut riwayat, sebab-sebab orang Arab menyembah berhala adalah : Amr bin Lubayyi seorang dari Khuza'ah meniru orang-orang Balka di daerah Syam dan ia tertarik akan perbuatan itu. Maka sewaktu kembali ke Makkah ia membawa patung Hubal dan ditempatkan di dekat Ka'bah dan kemudian disembahnya serta ia menganjurkan agar masyarakat Arab untuk menyembah berhala tersebut.
5.     Agama Yahudi dan Nasrani (Kristen)
Agama Yahudi mulai masuk ke Jazirah Arab tahun 1491 SM. Mula-mula di Mesir pada zaman Nabi Musa a.s. sedangkan agama Nasrani (Kristen) masuk ke Jazirah Arab kira-kira abad ke-4 M. Agama Nasrani berkembang di Jazirah Arab karena mendapat bantuan dari kerajaan Romawi dan Habsyi.
Pada saat menjelang kelahiran Agama Islam, tumbuh kelompok dari kalangan Bangsa Arab yang ingin melepaskan diri dari kepercayaan yang sesat itu. Mereka berusaha mengembalikan kepercayaan kepada agama Tauhid,  dengan mengajarkan Agama Ibrahim a.s. Tokoh-tokoh dari kelompok tersebut antara lain Waroqah bin Naufal, Umaiyah bin Abi Ashshalt dan Qus Saidah.
Sesungguhnya penyiaran Agama Nasrani dan Yahudi merupakan pembuka jalan bagi kelahiran pemimpin besar umat sangat ditunggu-tunggu, yaitu Nabi Muhammad Saw.



BAB III
SIFAT-SIFAT DAN WATAK MASYARAKAT ARAB

A.     Mengenal sifa-sifat dan Watak Bangsa Arab
Pada zaman jahiliyah tidak ada pemerintahan yang tetap, mereka hidup bersuku-suku atau kabilah, kehidupannya berpindah dari satu lembah ke lembah lainnya. Pemilihan kepala suku (kabilah) di dasarkan atas umur yang lebih tua, harta yang lebih banyak atau wibawa yang besar, bila telah terpilih mereka akan mematuhinya.
Kondisi sosial dan budaya masyarakat di negara-negara Arab dipengaruhi oleh kondisi geografisnya. Negara-negara itu tersebar di belahan barat Benua Asia dan di utara Benua Afrika. Negara-negara Arab di benua Asia adalah Arab Saudi, Yaman, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania, Suriah, Irak, Kuwait, Palestina dan Lebanon. Sementara negara-negara Arab di benua Afrika adalah Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko Sudan, Mauritania, Somalia, Jibuti dan Kombro.
Di benua Asia kebudayaan Arab terpusat di Arab Saudi terutama di Kota Mekah dan Madinah (dua kota suci yang memiliki Karisma tersendiri sebagai tempat berkumpul jutaan jamaah haji). Sementara di Afrika kebudayaan terpusat di Mesir. Karena dekat dengan Asia dan berseberangan dengan Eropa, posisi Mesir sangat strategis. Apalagi negara itu memiliki universitas tertua di dunia yakni Universitas Al Azhar.
Karakteristik etnis Arab yang khas dibentuk oleh lingkungan yang keras dan terisolasi. Hal terutama untuk negara-negara Arab di kawasan Tengah alias Jazirah Arab. Mereka memiliki hubungan erat di dalam masyarakat dan lingkungan tempat tinggal. Nyaris tidak ada pihak yang bisa mengubah kebudayaan asli karena “kelompok penyerang” bakal kesulitan menembus padang pasir.
Bangsa-bangsa yang berbahasa Arab memiliki karakter kebangsaan yang sama, baik dari naluri keagamaan, kegamblangan imajinasi, ketegasan individualitas, dan kekerasan sikap. Mereka terbiasa “berteman” dengan kelangkaan air, terik matahari, kegersangan padang pasir, serta berburu dan menyerah. Mereka juga memiliki sikap individualistik, kesukuan dan egosentrisme yang begitu kuat.
Karena alam yang panas, maka umumnya orang Arab mudah tersinggung dan tidak mau kalah. Jika berseteru, orang Arab lebih banyak beradu mulut daripada adu jotos.
Apabila terjadi suatu perselisihan antar satu suku, atau dalam satu suku, maka tidak terdapat hukum yang tetap, adat istiadatlah yang memegang peranan dalam memutuskan perkara tersebut.
Bangsa Arab mempunyai sifat, watak, atau adat istiadat yang baik dan yang buruk. Di antara sifat-sifat dan adat istiadat yang baik adalah:
1.      Menghormati tamu, bila seorang bertamu maka akan disambut dengan ramah dan disuguhi makanan yang paling disukai, sehingga tamu tersebut merasa puas.
2.      Pemeberani dalam segala hal, mereka bagaikan singa di medan pertempuran begitu juga berani dalam mengemukakan pendapat.
3.      Ahli pidato dan syair, sudah menjadi lamabang dan kejayaan suatu suku bila terdapat juru pidato dan penyair, karena mereka akan memberikan semangat dalam pertempuran dan membalas segala serangan dari suku lain, mereka selalu mengadakan perlombaan-perlombaan di pasar-pasar, seperti di pasar ukaz, dan banyak lagi adat istiadat yang baik pada suku tersebut.

Adapun sifat dan watak serta adat istiadat yang buruk adalah:
1.      Selalu hidup berfoya-foya
2.      Suka meminum-minuman keras dan mabuk-mabukan
3.      Suka berzina dan melacur
4.      Suka berjudi, hasil judi itu dibelikan hewan yang akan dipotong dan dagingnya mereka makan bersama sambil bersenang-senang sampai mabuk-mabukan.
5.      Cara makan dan minum masih kotor, seperti makan bangkai, kalau hewannya masih hidup cukup dipukul lalu dagingnya dimakan.
6.      Melakukan pencurian dan perampokan.
7.      Bila melahirkan anak laki-laki di antara suku Arab ada yang membunuhnya, karena takut akan terjadi kemiskinan dan kelaparan.
8.      Bila melahirkan bayi perempuan, di antara suku Arab ada yang menguburnya hidup-hidup, karena mereka takut akan cela dan hina.
9.      Tidak mempunyai kesopanan, sudah menjadi kebiasaan dalam mengerjakan thawaf, mengelilingi Ka'bah pada musim haji laki-laki atau perempuan tidak berpakaian (telanjang bulat). Bila mandi di depan orang banyak tidak menutup auratnya.
10.  Pertengkaran dan perkelahian.


BAB IV
EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT ARAB

A.     Keadaan Ekonomi BangsaArab Sebelum Islam
Tanah Arab adalah tanah yang tandus. Kehidupan perekonomian mereka terbagi menjadi tiga macam yaitu ;
a.       Perternakan, biasanya dilakukan oleh suku Arab pedalaman yang disebut suku Badui. Mereka berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain, untuk mencari rumput atau makan hewan ternaknya. Mereka bertemak unta dan biri-biri untuk diambil daging dan kulitnya.
b.       Perdagangan, dikerjakan oleh suku Arab yang tinggal di kota-kota besar. Mereka disebut Ahlulu Hadhar jalur perdagangan mereka antara lain ke negeri Syam, Yaman dan negeri Mesir. Nabi Muhammad pun pemah berdagang ke negeri Syam membawa dagangan Siti Khadijah. Pusat perdagangan di tanah Arab terletak di kota Makkah.
c.       Pertanian, dikerjakan oleh suku-suku yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang subur, seperti Thaif. Mereka menanam bnah-buahan dan sayur sayuran. Bangsa Arab mempunyai kehidupan yang bebas dan tidak mempunyai aturan hukum yang tetap sehingga diantara mereka sering terjadi perselisihan.


B.      Keadaan Sosial Masyarakat Bangsa Arab
1.      Bentuk Kehidupan Bangsa Arab
Bangsa Arab pada garis besamya terbagi menjadi dua bagian, yaitu penduduk yang tinggal di desa dan penduduk yang tinggal di kota. Penduduk kota biasanya disebut suku Badui, artinya penduduk pedalamanGolongan penduduk inilah yang tersebar jumlahnya. Mata pencaharian mereka adalah bertemak.
Penduduk yang tinggal di kota-kota, mata pencaharian mereka adalah sebagai pedagang di pasar-pasar tradisional dan juga dari mereka yang berdagang ke luar negeri dengan unta atau kuda ke negeri Syam, Mesir, dan Persia.
Kedua golongan ini, walaupun sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan, masih selalu merasa kekurangan. Oleh karena itu, masih sering terjadi persaingan dan perselisihan di antara mereka. Kehidupan seperti ini di negeri Arab berlangsung cukup lama.

2.      Tata Sosial Bangsa Arab
Bangsa Arab sebelum datangnya Islam tidak memiliki pemerintahan yang teratur dan tetap, pada umumnya mereka masih buta huruf. Walaupun demikian mereka telah mempunyai tatanan masyarakat berdasarkan kebiasaan-kebiasaan. Mereka memiliki kebiasaan hidup bebas dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain yang dianggap lebih baik. Kehidupan ini merupakan pengaruh dari keadaan alam alam negeri Arab yang bergurun dan berbukit-bukit.
Bangsa Arab terkenal dengan bangsa yang pemberani di dalam membela pendiriannya. Mereka tidak mau mengubah tata cara hidup yang sudah menjadi kebiasaan.
Bangsa Arab pada saat itu tidak mau dijajah dan tidak mau mengalah, sehingga sering kali terjadi peperangan antar suku. Namun demikian, mereka memilki kebiasaan yang baik yaitu suka menghormati dan memuliakan tamu.
3.      Adat Istiadat Bangsa Arab
Kebiasaan hidup bangsa Arab adalah sebagai pengembara dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari daerah yang lebih subur. Mereka tidak mengenal cara hidup lain selain mengembara. Moral dan perilaku mereka sangat rusak, sehingga mereka dikatakan kaum jahiliyah. Kaum jahiliyah artinya kaum yang bodoh. Di samping itu mereka banyak percaya kepada tahayul, tenung, perbintangan dan lain-lain. Kebiasaan lain dari bangsa Arab yang lain yaitu berjudi dan minum-minuman keras. Pekerjaan ini dilakukan secara bersama-sama. Bahkan tak jarang dari mereka yang suka merampok, sehingga menyebabkan terjadinya perkelahian antar suku. Cara minum dan makan mereka masih sangat kotor atau jorok seperti memakan makanan daging dari hewan yang sudah mati atau bangkai. Ada dari suku Arab yang mempunyai moral yang sangat buruk sehingga tega mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup. Mereka beranggapan bahwa anak perempuan itu tidak berguna dan hanya akan menyusahkan orangtua. Oleh karena itu, mereka merasa terhina apabila mempunyai anak perempuan. Diantara suku yang melakukan perbuatan keji tersebut adalah Suku Bani Tamim dan suku Bani Asad.


Uji Kompetensi
I.     Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang paling tepat!
1.      Tanah Arab terkenal dengan tanahnya yang . . .
2.      Moral dan perilaku bangsa Arab sebelum Islam masuk sangat rusak, sehingga disebut kaum . . . .
3.      Di bawah ini adalah mata pencaharian bangsaArab, kecuali . . .
4.      Di bawah ini beberapa sifat bangsa Arab, kecuali ..
5.      Bertemak dilakukan oleh bangsa Arab yang tinggal di . . .
6.      Penduduk negeri Arab yang tinggal di desa-desa disebut . . .
7.      Suku Arab yang tinggal di pedalaman disebut . . .
8.      Suku Arab yang tinggal di kota-kota disebut . . .
9.      Unta dan biri-biri yang dternak oleh suku arab pedalaman diambil . . .
10. Suku Arab yang tinggal di kota-kota bekerja sebagai . . .

II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang paling tepat!
1.      Pusat perdagangan di Jazirah arab terletak di kota . . . 
2.      Diantara suku yang mengubur anaknya perempuannya hidup-hidup adalah ..... dan . …
3.      Berternak adalah pekerjaan bangsa Arab . . .
4.       Antara suku di Arab sering terjadi kerusuhan dan peperangan, hal ini disebabkan oleh . . . .
5.       Salah satu tempat subur, bangsa Arab hidup sebagai . ..
6.       Tiga mata pencaharian bangsaArab adalah . .
7.       Di tempat-tempat yang subur di Jazirah Arab yaitu . . ..
8.       Kehidupan bangsa Arab selalu berpindah-pindah dan mengembara, oleh sebab itu mereka mempunyai sifat ...
9.       Penduduk Jazirah Arab yang berdagang ke luar negeri menggunakan kendaraan.…Atau.....
10.   Selain ke negeri Syam dan Mesir, pedagang Arab juga berdagang ke negeri..

III. Jawablah pertanyaan ini dengan singakat!

1.       Apakah yang menyababkan orang arab suka hidup berpindahpindah?
2.       Jelaskan, megapa ada diantara suku arab yang tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya sendiri?
3.       Sebutkan pembagian golongan bangsaArab ?
4.       Sebutkan kebiasaan-kebiasaan baik bangsa Arab ?
5.       Sebutkan adat istiadat bangsa Arab ?


BAB V
PETA MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

A.     Masuknya Islam Kekepulauan Indonesia
Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara adalah yang pertama sekali  menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai, Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M. Telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battutah, pengembara Muslim dari Maghribi, yaitu ketika singgah di Aceh tahun 746 H . 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli melainkan makam para pedagang Arab sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran.
Baru ada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad Tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki “kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate.
Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra lslam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Berkembangnya Islam ke Indonesia berjalan dengan pesat yang dibawa oleh pedagang Arab, Persia dan India yang telah beragama Islam. Masuknya melalui teluk Persia dan Syiria, terus ke Peureulak dan Samudera Pasai di Aceh bagian Utara selanjutnya ke daerah-daerah lain di Sumatera.

B. Nama Kota/Daerah yang mula-mula dimasuki Islam
Agama Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke 1 hijriyah atau abad ke 7 Masehi. Kota yang mula-mula dimasuki Islam ialah Peureulak dan Pasai di Jaerah Aceh bagian Utara. Peureulak dan Pasai ini kota pelabuhan yang banyak disinggahi kapal-kapal dan perahu dari dalam dan luar negeri. Dari sanalah agama Islam ke daerah-daerah lain di Sumatera, terutama di pesisir bagian timur. Dan dari sana pula agama Islam tersebar ke daerah-daerah pulau Jawa, kemudian berkembang ke daerah-daerah lain di Indonesia.

C . Daerah yang pertama kali di masuki Islam
Islam tersebar melalui dua jalur hingga sampai ke Peureulak dan Pasai, kemudian tersebar ke daerah-daerah lain dari Samudera Pasai Islam menyebar ke daerah-daerah lainnya yaitu :
a.       Minangkabau (Sumatera Barat)
b.       Pesisir Utara Pulau Jawa 
c.       Sumatera Selatan
d.       Kalimantan Selatan
e.       Kalimantan Barat
f.        Maluku Utara
g.       Sulawesi Selatan
h.       Irian Jaya

Kota/daerah yang mula-mula dimasuki Islam di Indonesia adalah Peureulak dan Pasai. Dari daerah Peureulak dan Pasai menyebar ke Pulau/daerah lainnya, yaitu ;

a.       Pariaman di Minangkabau (Sumatera Barat)
b.       Gresik dan Tuban di jawa Timur
c.       Demak di Jawa Tengah
d.       Banten di Jawa Barat
e.       Palembang di Sumatera Selatan
f.        Banjar di Kalimantan Salatan
g.       Sukadana di Kalimantan Barat
h.       Makasar di Sulawesi Selatan
i.         Ternate, Tidore, Bacan dan Jaelolo di Maluku Utara
j.         Sorong dan Irian Iaya

D. Pembawa Agama Islam ke Indonesia
Islam pertama kali masuk ke Indonesia di bawa oleh Mubalig-Mubalig yang juga pedagang yang datang dari Negeri Arab, kemudian dilanjutkan oleh Mubalig-mubalig negeri lain seperti Gujarat dan India. Kemudian penyiaran Islam itu dilakukan oleh mubalig-mubalig Indonesia sendiri dari Peureulak, Samudera Pasai dan lain-lain.

E. Cara Masuknya Islam Ke Indonesia
Agama Islam yang datang ke Indonesia diterima dengan baik oleh penduduk negeri penyiaran Islam dilakukan secara damai, ramah tamah dan penuh kebijaksanaan lagi pula penduduk negeri sangat menyukai budi pekerti para mubaligh yang membawa agama tersebut. Di samping itu ada hal menarik lagi bahwa ajaran Islam sederhana, mudah dan sesuai dengan perasaan dan pemikiran manusia juga Islam mengajarkan persamaan hak dan tidak membedakan kasta-kasta.
Pada abad 7 M Islam sudah sampai ke Nusantara. Para da'i yang datang ke Indonesia berasal dari Jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa Gujarat dan bangsa Cina melalui jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah ke pesisir-pesisir nusantara. Islam pertama-tama disebarkan di nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan, perdagangan serta terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternate dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian timur yang wilayahnya sampai ke Papua.
                Di abad 13 M berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di berbagai penjuru nusantara. Di abad yang sama ada fenomena yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan Islam di Indonesia. Wali Songo berdakwah atau melakukan proses, Islamisasi melalui saluran-saluran :
1.       Perdagangan
2.       Pernikahan
3.       Pendidikan
Pendidikan Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya Indonesia, dan juga adopsi serta adaptasi khasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.
4.       Seni & Budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal di masyarakat Jawa pada khususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkan egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia dihadapan Allah SWT dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk & Bagong. Para wali juga mengubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
5.       Tasawuf
Kenyataan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
F. Keadaan Masyarakat Sebelum Masuknya Islam
1 . Tata Masyarakat Indonesia
Sebelum Islam masuk ke Indonesia penduduk Indonesia telah hidup bermasyarakat. Mereka tinggal di desa-desa dan perkampungan, banyak juga dari mereka yang tinggal di kota-kota atau di daerah tepi pantai.Penghidupan mereka dari bertani, berdagang dan nelayan.
Mereka hidup berkelompok-kelompok dan membuat rumahrumah untuk tempat tinggal. Mereka hidup bergotong royong dan saling membantu untuk menjaga keutuhan kelompok mereka saling memilih pimpinannya. Pimpinan yang diangkat dan dari sanalah asal mula terbentuknya kerajaan-kerajaan. Pemimpin itu mengangkat dirinya sebagai raja dan diwariskannya secara turun temurun.

2. Bentuk Kepercayaan Bangsa Indonesia Sebelum Datangnya Islam
Adalah agama-agama tradisional yang telah ada sebelum agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu masuk ke Nusantara (Indonesia). Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama "resmi" (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, df setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur; agama Parmalim, agama asli Batak; agama Kaharingan di Kalimantan;
Kepercayaan Tonaas Walian di Minahasa, Sulawesi Utara; Ihlotmng di Sulawesi Selatan; Wetu Telu di Lombok; Naurus di Pulau Seram di Propinsi Maluku, dan lain-lain. Di dalam Negara Republik Indonesia, agama-agama asli Nusantara tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil dan sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang. kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman Sumatera dan pedalaman Irian Jaya. 
Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak Penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih. Agama Bali (lebih sering disebut sebagai Hindu Bali atau Hindu Dharma) Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten) Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat) Buhun (Jawa Barat) Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur) Parmalim (Sumatera Utara) Kaharingan (Kalimantan) Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara) Tolottang (Sulawesi Selatan) Wetu Telu (Lombok) Naurus (pulau Seram Maluku), aliran Mulajadi Nabolon, Marapu (Sumba) Purwoduksino, Budi Luhur, Pahkampetan, Bolim, Basoradan lain-lain.

G. Peta Perkembangan Islam di Indonesia
1. Di Pulai Sumatra
            Raja-raja di Peureulak dan Samudera Pasai giat pula membantu penyiaran agama Islam ke Minangkabau. Pada abad ke-14 Masehi agam Islam telah masuk ke daerah itu, setelah Minangkabau melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit pada abad ke 14 berdiri sendiri menjadi Kerajaan Minangkabau, kemudian agam Islam semakin berkembang di daerah tersebut. Pedagang-pedagang Islam dari Malaka masuk ke daerah Palembang dan mendakwahkan agama Islam. Raden Rahmat adalah penyebar Islam di Palembang yang sangat berjasa Raja Palembang yang bergelar sultan ialah Sultan Abdurrahman.
            Agma islam masuk ke daerah Lampung ialah Raja Minyak Kemala Bumi yang mempelajari Islam di Banten kemudian ke Makkah untuk memperdalam pengetahuan agamanya. Sekembalinya ke Lampung, raja tersebut giat menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di daerahnya.

2. Di Pulau Kalimantan
            Pada pertengahan ke 16 Masehi agama Islam masuk Kalimantan Selatan dibawa oleh penyebar-penyebar Islam dari Pulau Jawa yaitu Demak. Kerajaan di Kalimantan yang pada mulanya bernama Negara Dipa dirubah namanya menjadi kerajaan Banjarmasin dan rajanya yang pertama kali masuk Islam bergelar Suriansyah.
Dari Banjarmasin yang menjadi ibukota kerajaan, agama Islam berkembang ke kota Waringin dan daerah-daerah sekitarnya. Penyebar-penyebar agama Islam dari Malaka pun melakukan kegiatan dakwah ke Kalimantan Baratlslam masuk ke daerah Sambas melalui Malaka. 

3. Di Pulau Sulawesi

Makasar (sekarang bernama Ujung Pandang) adalah pusat kerajaan Gowa Tallo. Letaknya baik dan menjadi kota pusat perdagangan di indonesia bagian Timur. Pedagang-pedangan dari Jawa, Sumatera, Maluku dan dan dari luar Negeri datang ke pelabuhan tersebut. Suku Bugis yang mendiami kota, itupun terkenal sebagai pelayar ulung. Mereka mengarungi lautan luas dengan perahu-perahu buatannya sendiri.
Mereka berlayar ke pulau Jawa, Kalimantan,Sumatera, Maluku dan Madagaskardi Luar Negeri. Pada permulaan abad ke 17 Masehi agama Islam masuk ke daerah Makasar dibawa oleh pedagang dan Mubaligh dari Sumatera yang terkenal dengan nama Dato Ri Bandang.
Raja kerajaan Gowa Tallo bemama Daeng Manrabbia masuk Islam pada tahun 1604 M dan bergelar Sultan Alaudin Awalulu Islam. Menteri-menteri (pembantunya) pun ikut masuk Islam, antara lain ialah Mangkubumi Karaeng Mataoya dengan gelar Sultan Abdullah .
Dari Makasar agama Islam berkembang ke pedalaman Sulawesi Selatan, yang selanjutnya ke Buton. Dari Makasar pula agama Islam dibawa ke daerah Bima
Dan Sumbawa di Nusa Tenggara. Penyebaran agama Islam semakin pesat pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin yang bertahta tahun 1655 M sampai tahun 1670 M.
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan diantaranya ialah, kerajaan Bone, Soppeng, Luwu, dan Bantaeng yang menerima penyebaran agama Islam dengan baik.

4. Dipulau Nusa Tenggara 
Pada abad ke 17 Masehi, daerah Sumbawa dan Bima di Nusa Tenggara termasuk daerah kekuasaan kerajaan Gowa Tallo. Penyebar-penyebar agama dari kerajaan tersebut mendakwahkan agama Islam kepada penduduk dan diterima dengan baik oleh mereka.
Penyebar-penyebar agama Islam yang juga berusaha sebagai pedagang membawa pula agama Islam ke daerah pulau Flores, yang telah mempunyai hubungan dagang dengan Makasar sejak dahulu. Penyebar-penyebar agama Islam dari kerajaan Demak pun menyiarkan agama Islam ke Pulau Lombok. Dengan demikian agama Islam masuk Nusa Tenggara melalui Makasar dan Gresik. 

5. Di Pulau Maluku dan Irian Jaya 
Sejak dahulu Maluku terkenal dengan rempah-rempah terutama lada, pala dan cengkeh yang sangat diperlukan oleh orang-orang di seluruh dunia. Pedagang-pedagang arab, Persia dan India telah sampai ke daerah Maluku untuk keprluan dagang mereka. Maka berdirilah kota-kota pelabuhan dagang di derah tersebut, antara lain Ternate dan Tidore. Kota-kota pelabuhan tersebut menjadi ibukota dari  kerajaan-kemjaan Ternate dan Tidore. Wilayah kekuasaan kerajaan Ternate sampai ke Irian.

Pada kurun waktu antara abad ke 15 dan ke 16 Masehi agama Islam telah masuk ke daerah Maluku dibawa oleh pedagang-pedagang yang beragama Islam dari tanah Arab, Persia dan India. Selain dari mereka, maka pedagang-pedagang Muslim dari pulau Jawa pun tiba di Maluku.
Mereka giat mendakwahkan agama Islam sambil melakukan perniagaannya. Raja-raja di Ternate dan Tidore memeluk agama Islam. Hal tersebut lebih memudahkan tersiarnya Agama Islam di kalangan penduduk asli.
Penduduk asli Irian pada waktu itu tidak mudah menerima agama dari luar. Mereka lebih senang dengan kepercayaan yang diterimanya dari nenek moyangnya secara turun temurun Akan tetapi penduduk di pulau-pulau sekitarnya telah memeluk agama Islam yang disebarkan melalui Ternate. Kemudian keadaan berubah, sehingga agama Islam dapat berkembang pula di Irian Jaya.

6. Di Pulau Jawa
Situasi masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa sebelum kedatangan Islam, kehidupannya dipengaruhi oleh Sistem Kasta satau peradabaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat terpecah-pecah.
Dan karena mereka yang tergolong kasta tinggi tidak diperkenankan bergaul dengan orang yang berkasta rendah. Sebagaimana mereka membagi kasta menjadi empat:
1. Kasta Brahmana
2. Kasta Ksatria
3. Kasta Waisya
4. Kasta Sudra
Diantara keempat kasta itu yang paling rendah tingkatannya adalah Kasta Sudra, Kasta inilah yang sering ditindas  oleh kasta-kasta yang lebih tinggi, sehingga hidupnya selalu resah. Setelah agama Islam masuk dan tersebar di masyarakat, baru dari sedikit kesedikit terkikislah perbedaan kasta-kasta itu dan mulailah teljaminnya hak asasi manusia tanpa ada perbedaan.
Menurut catatan ahli sejarah,Agam Islam masuk ke Pulau Jawa sekitar abad Xl Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan disebarkan Muballigh dari Pasai (Aceh Utara). Tetapi sebagian lagi dari ahli sejarah mengatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia yang pertama adalah di Pulau Jawa. Karena pada tahun 929-949 M, masa kekuasan Prabu Sindok, pan saudagar dari Pulan Jawa sudah banyak yang bedayar sampai ke Baghdad. Demikian juga para pedagang dari Persia dan Gujarat sudah ada yang datang ke lndonesia. .
Dikatakan lebih dahulu di pulau Jawa, karena ditemukan satu bukti pada batu nisan seorang wanita lslam yang bernama Fatimah Binti Maimun, yang dimakamkan di Desa Leran Gresik, tertulis wafatnya tahun 475 H atau tahun 1082 Masehi. Sedangkan mula-mula Islam masuk Sumatera yang dibawa oleh Syaikh Abdullah Arif dan Syaikh Burhanudin Al-Kamil yang akhirnya beliau wafat di Kunta pada tahun 610 H atau 1214 H. 
Adapun yang didatangi pertama oleh lslam di pulau Jawa yaitu di daerah-daerah pesisir utara Jawa Timur. Agama yang nampak perkembangannya di pulau Jawa itu, sejak datangnya Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang kemudian menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Tmur. Untuk perkembangan selanjutnya ditingkatkan oleh adanya para Wali terhimpun dalam nama ”WALI SANGA” (Wali Sembilan) sehingga meluaslah Islam ke seluruh tanah Jawa. Seperti di Jawa Barat dipelopori oleh Sunan Gunung Jati dan Fatahillah yang berhasil mengislamkan Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Juga halnya di Jawa Tengah ditangani oleh Suman Kudus dan Sunan Kalijaga. Dan untuk wilayah Jawa Tmmr diteruskan oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri.


BAB VI
MENGENAL WALI SONGO

A. Pengertian Wali Songo
Wali songo berasal dari kata Wali dan Songo. Wali artinya Ulama yang meneruskan penyiaran agama Islam kepada umat manusia, sedangkan Songo (bahasa jawa) artinya Sembilan. Jadi, Wali Songo ialah Sembilan orang wali yang mempelopori penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan sekitarnya. Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara dan taktik yang sesuai dengan keadaan masyarakat pada waktu itu. Wali Songo menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa, sekitar abad ke 15 dan ke-l6 sebutan lain dari wali Songo adalah sunan.

B. Nama-nama dan Asal-usul Wali Songo
Para wali yang lazim disebut wali songo adalah :
1.       Maulana Malik Ibrahim berasal dari negeri Arab
2.       Sunan Ampel, yang waktu kecilnya bernama Raden Rahmat, berasal dari negeri Campa di daerah Aceh (sekarang bemama Jeumpa)
3.       Sunan Giri disebut juga Sunan Paku. Pada waktu mudanya ia bernama Maulana Ainul Yakin. Ayahnya bernama Maulana Ishak seorang mubaligh dari Pasai.
4.       Sunan Draj at, nama kecilnya ialah Syarifudin ia adalah saudara Sunan Bonang dan Sunan Ampel.
5.       Sunan Bonang pada mulanya bemama Makhdum Ibrahim ia adalah salah seorang putra Sunan Ampel.
6.       Sunan Kali Jaga, pada waktu mudanya ia bernama Raden Mas Said ia adalah putra Tumenggung subur Wilatikta Bupati Tuban.
7.       Sunan kudus. Sewaktu kecil ia diberi nama untung, dan sewaktu ia menjadi mubaligh bemama Syekh Ja'far Shadiq ia adalah putra Raden usman yang bergelar Sunan Gunung dari Blora.
8.       Sunan Muria nama kecilnya Raden Prawoto ia putra Sunan Kali Jaga nama Sunan Muria diambil dari tempat makamnya di gunung Muria dekat Kudus.
9.       Sunan Gunung Jati, sering juga disebut Faletehan nama Arabnya ialah Fatahillah nama yang sebenarnya Syarif Hidayatullah ia keturunan raja Pasai.
Selain Wali Songo tersebut dikenal juga wali-wali yang lain seperti Syekh Subakir, Sunan Bayat, Syekh Siti Jenar dan Sunan Geseng.

C. Jasa-jasa Wali Songo dalam penyebaran Agama Islam
Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa besar sekali jasa-jasanya. Jasa-jasa Wali songo diantaranya:
1.       Mendirikan pusat-pusat penyaiaran dan penerangan agama Islam.
2.       Membangun tempat pendidikan dan pondok pesantren, dimana para murid santrinya berdatangan dari pelosok daerah Pulau Jawa.
3.       Mengajak dan menyeru raja-raja di Pulau Jawa untuk masuk agama lslam.
4.       Melakukan dakwah kepada para penduduk di Jawa dengan lemah lembut
5.       Mengusahakan berdirinya kerajaan Islam di Jawa antara lain kerajaan Islam Demak.

D. Beberapa Kisah Penyebaran Islam oleh Wali Songo
1. Penyabaran Islam oleh Maulana malik Ibrahim  
Maulana malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma  menyebumya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa tenhadap As-Samarkandy, bembah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik lbrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan lshak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-lO dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahiputri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo. daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.   
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik lbrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.  
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempumalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.  
Maulana Malik Ibrahim yang datang ke Jawa timur pada tahun 1379 M menjumpai penduduk yang kebanyakan masih beragama Hindu dan Budha. Cara menyiarkan agama Islam berupa pergaulan budi bahasa yang lembut dan ramah tamah dengan para penduduk sekitar. Ia tidak menentang secara keras kepercayaan dan adat istiadat penduduk, ia membuka pondok pesantren sebagai tempat pendidikan putra putri dalam ajaran Islam untuk dijadikan kader mubaligh Islam di  masa yang akan datang. Maulana Malik Ibrahim wafat tahun l4l9 M dan dimakamkan di Grerik.

2. Penyebaran Islam oleh Sunan Ampel
Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bemama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Makhdum lbrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Kengseorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Kapten Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fumenantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil). Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namum tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa pennaisuri Prabu Brawijaya.  
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum lbrahim (putra Haji Bong Tak Keng), ketunman suku Hui dari Yunnan yang merupakan pencampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati (anak Sultan Champa) yang menjadi permaisuri raja Brawij aya.  
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII). Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja. Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampel Gading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika isterinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut.
Tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai SutaPinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampel gading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses Islamisasi tersebut. Akhimya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makdum.  
Sunan Ampel beristrikan pini Tuban bernama Nyai Ageng Manila. Sunan Ampel melanjutkan cita-cita perjuangan Maulana Malik Ibrahim ia perencana berdirinya kerajaan Islam di Jawa yang berkedudukan di Demak dan ia juga ikut mendirikan mesjid Demak yang dibangun tahun I479 M. dalam memulai usaha mengembangkan agama Islam, ia mendirikan pondok Pesantren di Ampel dekat Surabaya. Diantara muridnya ialah Raden Paku, Raden Patah, Makhdum Ibrahim, sunan Drajat dan Maulana Ishak.

3. Penyebaran Islam oleh Sunan Giri
Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.
Beberapa babad menceritakan pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.  
Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir; Jafar ash-Shadiq, Ali al Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar Rumi, Ahmad al-Muhajir; Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani,  Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa'adah Balawi Hadramaut.
Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri/Sunan Giri merupakan putera dari pasangan Putri Pasai (Jeumpa) dengan putera Raja Bali. Putri Pasai adalah puteri Sultan Pasai yang diambil isteri oleh Raja Majapahit yang bernama Dipati Hangrok. Pasangan Putri Pasai dengan Raja Majapahit ini telah memperoleh seorang putera. Kemudian Putri Pasai diberikan oleh Raja Majapahit kepada putera dari Raja Bali. Jadi Pangeran Giri saudara seibu dengan putera Raja Majapahit. Mangkubumi Majapahit masa itu adalah Patih Maudara.
Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka ia dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut/selat bali sekarang ini.
Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.
Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Ampeldenta (kini di Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra yang temyata bemama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.
Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.
Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.  
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.
Sunan Giri adalah murid Sunan Ampel. Ia Putra Maulana Ishak sunan Giri bernama maulana Makhdum Ibrahim disuruh oleh Sunan Ampel pergi haji dan memperdalam ilmu agama di Makkah sepulang dari belajar di luar negeri ( Malaka, Iran dan Makkah) ia menetap di bukit Giri dekat Gresik dan disitulah ia nmmendirikan pondok pesantren dan mesjid. Murid/santrinya banyak berdatangan dari jauh diantara para murid/santrinya ada yang dikirim keMadura, Bawean bahkan Ternate untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Giri merupakan seorang ahli pendidikan pada waktu itu ia mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan yang berjiwa agama, seperti jelungan, jamuran, cublek-cublek suweng dan ilir ilir sunan girilah yang memberikan gelar Sultan kepada Raden Patah.

4. Penyebaran Islam oleh Sunan Drajat  
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.
Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan. Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran Islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran.Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 Masehi.  
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyar-Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaraan pribadi.
Sunan Drajat bernama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendati kemanan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selamn 36 tahun.
Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang takan! berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin la terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru yang memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi. Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari taman komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain).
2. Jroning suka kudu eling Ian waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada).
4. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning Iampah (dalam pejalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan).
5. Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
6. Heneng-Hening-Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur).
7. Mulyo guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu).
8. Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busana marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita).
Sunan Drajat adalah putra sunan Ampel ia seorang wali yang berjiwa sosial. Dalam mengembangkan agama Islam ia sering memberikan pertolongan kepada orang-orang yang sengsara, seperti fakir miskin, yatim piatu dan orang sakit. Sunan Drajat juga dikenal sebagai orang yang menciptakan Gending Pungkur.

5.      Penyebaran Islam oleh Sunan Kali Jaga
Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu Demak.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.   
Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw. Sementara itu, menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, 'dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Soflah.
Menurut cerita sebelum menjadi Walisongo, Raden Said menjadi seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan hasil bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden . Said ke hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang; Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu, ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf“ bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya, Maka mereka harus didekati secara bertahap mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah llir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.
Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.
Sunan Kalijaga menyebarkan agama Silam di Jawa Tengah dengan cara memasukan ajaran Islam dalam cerita wayang. Pada waktu itu masyarakat Jawa Tengah penggemar wayang sehingga banyak orang termasuk kaum bangsawan dan cendikiawan memeluk agama Islam. Sunan Kalijaga wafat di kadilangu Demak.  

6. Penyebaran Islam oleh Sunan Kudus
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Ja'far Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung alias Sunan Undung (Sunan Kudus senior, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro dan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550 M.  
Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.  
Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.  
Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kota Kudus, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.
Di antara keturunan Sunan Kudus yang menjadi Ulama dan Tokoh di Indonesia adalah; Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini, Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi Al Husaini, dan Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi AlHusaini.
Sunan Kudus mengaj arkan agama Islam antara lain dengan mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat agama. Diantara hasil ciptaannya ialah gending Maskumambang dan Mijil daerah penyebarannya ialah pesisir utra jawa Tengah. la pernah pula diangkat sebagai senopati Kerajaan Islam Demak.  

7. Penyebaran Islam oleh Sunan Bonang
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai  nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.  
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura, Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang, mereka memperebutkannya.
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad. Terdapat silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan NabiMuhammad;
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim bin Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad, India) bin Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin Ali Kholi' Qosam bin Alawi Ats-Tsani bin Muhammad Sohibus Saumi'ah bin Alawi Awwal bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Uradhi bin Ja'afar As-Sodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal 'Abidin bin bin Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad).  
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr.
Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.  
Apa pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan mempakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.  
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernafasan yang disebut dengan rahasi Alif Lam Mim (ا ل م) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyah yang beljumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.  
Sunan Bonang putra sunan Ampel lahir pada tahun 1465 M dan wafat tahun 1552 M semasa hidupnya ia giat menyebarkan agama Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama di Tuban. Ia mendirikan pondok pesantren sebagai tempat pendidikan para pemuda Islam yang akan meneruskan perjuangan diseluruh pelosok Pulau Jawa ia juga orang yang menciptakan Gending Darma pelajaran agama yang pernah ia ajarkan kepada para muridnya dibukukan dalam bahasa Jawa terbentuk Prosa.

8. Penyebaran Islam oleh Sunan Muria
Ia putra Dewi Sarohadik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana 'Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.  
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam; Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.  
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.  
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Daerah penyehatan agama Islam yang dilakukanya adalah di sekitar lereng gunung Muria. Ia mengajarkan Islam dengan cara memberikan kursus-kursus kepada rakyat jelata. Ia lebih suka hidup menyendiri bila ia bergaul selalu dengan rakyat.
Sunan Muria ikut mempertahankan Gamelan sebagai salah satu kesenian Jawa yang digemari rakyat untuk media memasukan faham keislaman. Untuk kepentingan dakwahnya, ia menciptakan lagu Jawa yang bernama “Sinom dan Kinanti” Sunan Muria wafat dimakamkan di puncak gunung Muria, 18 km sebelah utara kota Kudus.

9. Penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam diJawa Barat.  
Ayah Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.
Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi: seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung ( Cirebon ).   
Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah Al-Khan bin Sayyid 'Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin Sayyid 'Ali Nuruddin Al-Khan 'Ali Nurul 'Alam bin Sayyid Syaikh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Al-Khan bin Sayyid Ahmad Shah Jalal Ahmad Jalaludin Al-Khan bin Sayyid Abdullah Al-'Azhomatu Khan bin Sayyid Amir 'Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad/lndia) bin Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut) bin Sayyid Ali Kholi' Qosim bin Sayyid Alawi Ats-Tsani bin Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah bin Sayyid Alawi Awwal bin Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid Al Imam Ali Uradhi bin Sayyidina Ja'far As-Sodiq bin Sayyidina Muhammad 'Al Baqir bin Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin bin Al-Imam Sayyidina Hussain Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad.
Silsilah dari Raja Pajajaran, Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah Rara Santang (Syarifah Muda'im), Prabu Jaya Dewata Raden Pamanah Rasa, Prabu Siliwangi II, Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali), Niskala Wastu Kancana Prabu Siliwangi I, Prabu Linggabuana Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat).   
Penemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kian Santang kakanda dari Rara Santang).   
Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknya datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu
Pernikahan Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.  
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan Spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga ketika telah selesai belaj ar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.

Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.    
Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana ia memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Mubaligh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini. ia berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah ' keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.  
Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak. terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.  
Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling dituakan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.  
Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.   
Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik, dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.  
Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultanan Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.  
Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke-2 di tahun 1511.  
Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah), untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa.
Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.  
Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di Pulau Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.
Hal 67


Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.  
Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak Opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.  
Bagi para sejarawan, ia adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.  
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.
Sunan Gunung Jati dikenal dengan nama Fatahillah, berasal dari Pasai di Aceh utara. Pada waktu itu Portugis menjajah , Malaka, ia pergi belajar dari Makkah selama tiga tahun; Sepulangnya dari Makkah ia langsung ke jawa karena Pasai tempat kelahiranya masih diduduki oleh portugis. Kedatangannya di Jawa Sunan Gunung Jati disambut baik oleh Sultan Trenggono raja Demak (1521-1526 M). Kemudian dia diangkat sebagai panglima yang ditugaskan di Jawa Barat; Fatahillah dapat menguasai tempat-tempat penting seperti Sunda Kepala. Sunda dikenal dengan nama Jakarta. Perjuangan di Jawa Barat bukan saja mengajarkan agama Islam di kalangan penduduk tetapi juga mempertahankan Jakarta dari serangan Portugis yang berkedudukan di Malaka. Fathillah juga berjasa dalam mendirikan kerajaan Islam di Cirebon dan namanya disebut dengan nama Sunan Gunung Jati;

Uji Kompetensi
Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat dan jelas!
1.       Sunan Ampel berasal dari . . .
2.       Raden Rahmat adalah nama kecil dari . . .
3.       Saudara Sunan Drajat adalah . . .
4.       Sunan Kali Jaga nama kecilnya adalah . . .
5.       Isteri Sunan Ampel bemama…

Isilah titik di bawah ini dengan benar !
1.       Maulana Malik Ibrahim berasal dari Negeri...
2.       Nama kecil dari Sunan Drajat adalah ....
3.       Sunan Bonang dan Sunan Ampel Adalah .Saudara dari Sunan...
4.       Raden mas Said adalah nama kecil dari Sunan ...
5.       Raden Prawoto adalah nama kecil dari Sunan ...
6.       Makam Sunan Kalijaga berada di ....
7.       Sunan Muria adalah putra dari Sunan ....
8.       Sunan Bonang adalah putra dari Sunan.. .
9.       Sewaktu kecil Sunan Kudus diberi nama. ...
10.  Sunan Paku adalah nama lain dari Sunan ...

Materi SKI Diniyah Kelas 6, Buku SKI MDTA, Materi Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 6 Diniyah

No comments:

Post a Comment